Challenge Berbahaya

Karakter remaja yang menggebu-gebu dan akses media sosial yang tak terkendali terkadang dapat membuat teknologi menjadi sumber masalah. Belum lama ini ramai dikabarkan peringatan terhadap keikutsertaan sekian banyak challenge di media sosial sebab bahaya yang menakut-nakuti di baliknya.
Meski umur remaja adalah peralihan mengarah ke kedewasaan, menurut keterangan dari American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, area otak yang berfungsi untuk berpikir pada remaja belumlah matang. Sehingga, terkadang keputusan yang diambil oleh para remaja tersebut masih labil.

Challenge Berbahaya
Challenge Media sosial

Tantangan menarik, tetapi berisiko tinggi
Bicara soal challenge atau tantangan di media sosial, Anda barangkali ingat dengan ice bucket challenge yang dilaksanakan oleh semua selebritiguna penggalangan dana. Fenomena ini adalahhal positif yang dapat diambil dari pemakaian teknologi.
Tantangan yang hadir di media sosial menawarkan sesuatu yang mustahil dimungkiri menantang. Namun tak tidak banyak yang pun sekaligus menantang maut. Beberapa tantangan tersebut di antaranya sebagai berikut:

1. Kiki Challenge
Polisi di semua dunia sudah memperingatkan orang-orang supaya berhentimengerjakan tantangan yang pun disebut sebagai In My Feelings Challenge ini. Pasalnya, sejumlah orang telah merasakan kecelakaan dampak melakukan tantangan ini.
Beberapa masa-masa lalu dikabarkan seorang perempuan menjadi korban jambret dampak terlalu konsentrasi melakukan tantangan dengan iringan musik kepunyaan Drake ini.
Bagaimana tidak? Tantangan ini dilaksanakan dengan satu orangmengemudikan mobil sambal mendokumentasikan rekannya yang mesti melompat dari mobil dan menari seiring dengan jalannya mobil dengan pintu mobil terbuka.

2. Momo
Momo challenge baru-baru ini terangkat dampak ditemukannya seorang remaja berusia 12 tahun asal Buenos Aires yang meninggal gantung diri guna menjalankan tantangan terakhir dari challenge berbasis chatting viasoftware WhatsApp ini.
Sebelumnya, angka bunuh diri di kalangan remaja di Argentina, Meksiko, Amerika Serikat, Prancis, dan Jerman juga meningkat dampak tantangan ini.
Pengikut tantangan ini mesti menyimpan nomor telepon seseorang mempunyai nama Momo yang didapatkan dari suatu grup Facebook. Setelah berkomunikasi dengan Momo via Whatsapp, tantangan demi tantangan harus dilakukan.
Seluruh tantangannya merujuk pada hal-hal yang menyakiti diri sendiri,laksana melompat dari atap rumah, menyayat lengan, bangun di jam-jam aneh, dan yang lainnya. JIka tidak dilakukan, maka akun dengan avatar boneka instalasi karya Midoru Hayashi itu akan mengantarkan rekaman suara, video, atau foto-foto yang menyeramkan.

3. Condom Snorting
Pertama kali hadir pada 2007 dan ramai pulang di 2013, tantangan ini langsung merangsang kontroversi. Peserta tantangan harus memasukkan kondom ke di antara lubang hidung, menghirupnya kuat-kuat, sampai kondomterbit lewat mulut, kemudian menariknya keluar.
Para berpengalaman kesehatan menuliskan bahwa tantangan ini paling berbahaya, sebab berisiko mengakibatkan kondom tersangkut salah satu hidung dan tenggorokan, sehingga menciptakan orang yang melakukannya tersedak.
Bicara tentang gejala tantangan condom snorting, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter menyatakan bahwa saat seseorang tersedak, trakea (batang tenggorok) bakal tersumbat dan mengakibatkan gangguan fungsi tubuh.
“Saat tersedak kondom, orang akan susah bicara atau berteriak, wajah membiru dampak kekurangan oksigen, peserta merasa laksana tercekik,sampai batuk dan merasakan gangguan pernapasan,” jelasnya.

4. Skip Challenge
Menurut situs https://828bet.net/ Skip Challenge sempat ramai di kalangan remaja Indonesia, di Amerika tantangan ini lebih dikenal dengan sebutan passed out challenge. Peserta diwajibkan menghirup udara sejumlah mungkin, lantas 2–3 orang akan mengurangi dadanya sekuat tenaga sampai ia pingsan.
Meski tampak kocak dan sederhana, nyatanya data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menulis sepanjang tahun 1995–2007 ditemukan 82 kasus yang menyebabkan kematian anak umur di bawah 18 tahun yang disebabkan oleh tantangan ini.
Berdasarkan keterangan dari dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, mendorong dada dengan desakan berlebih bisa menghambat oksigen masuk ke dalam sirkulasi darah, serta menambah risiko gangguan jantung dan desakan darah tinggi. Di samping itu, organ bagian otak yang tidak  mendapatkan cakupan oksigen yang cukup pun akan mengakibatkan peserta kehilangan kesadaran.

Challenge Berbahaya
Skip Challenge

5. Cinnamon Challenge
Meskipun tidak banyak dibicarakan di Indonesia, peserta tantangan cinnamon challenge ini diharuskan menelan sesendok kayu manis dalam 60 detik tanpa minum air, hal ini sudah mendapatkan peringatan dari semua dokter.
Dalam jurnal Pediatrics tahun 2013, diterangkan bahwa tantangan ini dapat mengakibatkan masalah tenggorokan dan pernapasan, tersedak, dan paru-paru yang rusak.
Pada 2015 seorang anak laki-laki ditemukan tersedak sampai mati sesudah menelan nyaris seluruh bubuk kayu manis dalam satu wadah, tanpa disertai minum air.

6. Vampire Biting
Berangkat dari euforia film Twilight, ternyata terdapat sekelompok remaja yang membuat sebuah challenge yang membahayakan pesertanya.
Orang yang mengekor tantangan ini mesti menggigit pasangannya sampai muncul bintik darah laksana digigit vampire. Padahal, risiko HIV, hepatitis, dan infeksi di tempat gigitan bisa membahayakan kesehatan.

7. Salt and Ice
Tantangan terakhir dilaksanakan dengan menempatkan garam di lengan, lalu menempatkan es batu di atasnya dan menunggu sampai es batu itu mencair. Secara ilmiah, garam dapat menjaga suhu es, walau es batu sudah mencair.
Atas tantangan ini, remaja yang melakukannya berisiko terpapar radang dingin, yang serupa dengan kondisi saat seseorang terbakar api. Namun, dalam hal ini es memunculkan sensasi mati rasa, maka peserta tidak menyadari bahwa jaringan pada lengannya tengah terluka.Tren tantangan yang marak diperbincangkan ini sangatlah berbahaya, sampai sebuah lembaga pencegahan kekejaman anak di Inggris menerbitkan peringatan untuk orang tua seputar bahaya di balik salt and ice challenge.

Challenge Berbahaya

Dari sekian banyak jenis challenge yang ditawarkan di media sosial tersebut, ada satu kesamaan. Seluruh kegiatan saat mengerjakan tantangan mesti diunggah ke media sosial sebagai pembuktian bahwa peserta telah sukses melakukannya.
Melihat urusan ini, dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid., dari KlikDokter, menuliskan bahwa secara psikologis, umur remaja 10–17 tahun pada dasarnya memang sedang dalam fase senang meniru dan mempraktekkan hal-hal yang dirasakan keren atau menantang. Jadi, lumrah saja bila semua remaja merasa tertantang untuk melakuka tantangan tersebut.
Dengan merebaknya challenge di media sosial yang mengancam kesehatan dan membahayakan jiwa remaja, sebagai orang tua Anda harus lebih teliti memantau kegiatan digital anak yang memasuki usia remaja. Gaul boleh, namun harus tetap arif dan bijak untuk memilih aktivitas yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *